melihat dunia dalam sisi lain yang berbeda, menulis hal-hal gila, yang tak terbaca bangsa, mendengar suara sunyi, mencoba merasakan dalam posisi miring

Ibuku Dihukum Penjara 2 Tahun (Sebuah Kisah di Bangku Pengadilan)


hari ini mungkin hari yang tak akan peranah kulupakan bahkan mungkin oleh seluruh keluargaku, oleh ayah, ibu maupun dua saudaraku. hari ini 6 oktober ibuku resmi menjadi narapidana dan diputus bersalah danal sebuah rangkaian kasus gayus yang tak ku mengerti sebagai anak manusia. hari ini semua tertuju pada pembatalan pak presiden ke tanah kompeni, dan kolega-kolega ibuku sibuk berjudi dengan pimpinan barunya. tidak akan banyak yang peduli dengan kasus dan nasi yang menimpa keluarga kami terutama ibu. buat mereka kasus ini sudah tak penting, kasus perwira administrasi kecil yang terjebak dalam labiri busuk korupsi negeri ibu pertiwi.

kini kepada siapa aku harus mengadu, apakah aku harus seperti seorang ayah dari malang yang berjalan kaki menuntuk keadilanke istana hingga terlunta-lunta di jakarta, ataukah aku harus seperti ibu yang membawa anaknya ke istana untuk menuntut keadilan atas anaknya yang terkena ledakan tabung gas tiga kilo. tapi apalah dayaku aku hanyalah seorang anak perempuan yang pingsan di pengadilan saat mendengar ibuku di vonis 2 tahun penjara. aku tak berdaya, aku hanyalah seorang hamba yang menuntut keadilan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. kini kepercayaanku pada hukum di indonesia telah sirna.

ibuku bernama sri sumartini atau dalam kepolisisn sering di panggil akp sri sumartini, tapi orang-orang lebih sering memanggilnya tini. panggl saja itu. tini. sederhana. kini kami dalam keluarha masih bertanya, kenapa hanya ibu dari petugas administrasi yang hanya mengurus surat-menyurat terseret dalam bui, padahal ibu tak tahu apa-apa. beliau dituduh menerima uang yang bahkan hingga palu di ketuk bukti uang sampai di tangan ibu tidak pernah terbukti, yang ada hanya keterangan dari seorang karyawan pajak yang terkenal busuknya dan keterangan seorang pengacara yang terbukti sebagai napi.

kenapa ibu yang petugas administrasi harus harus bersalah. kenapa bukan atasan beliau yang para jendral itu yang di seret ke pangadilan, atau inikah kedilan, kedailan yang ada di pengadilan. ibu di muasi ke dalam bui sedangkan para jendral yang menerima uang miliyaran di mutasi sebagai staf ahli, sungguh terhormat sekali. dimana para jendral itu sekarang? ibu adalah orang kecil dan kami juga hanyalah keluarga kecil sama seperti semua keluarga-keluarga di indonesia lainnya. tapi kongkalikong para jendral orang pajak dan para pengusaha merubah segalanya, mereka menikmati uangnya sedangkan kami harus menderita akibat ulah para bajingan yang tak pernah dianggap bersalah.

Pada prinsipnya ibu adalah polisi yang selama ini sudah mengabdi dan sangat mencintai Polri. Tanpa cacat ibu bekerja dengan disiplin melakukan perintah pimpinan, apa pun yang diberikan ibu laksanakan dan jalankan sebaik mungkin serta tidak pernah meninggalkan tugas.

Dalam menaikkan karier, ibu selalu mengikuti pendidikan yang diajarkan pimpinan sesuai aturan-aturan di kepolisian seperti kejuruan, pendidikan jenjang keperwiraan di Sukabumi. ibu adalah seorang ibu dari tiga anak-anak yang sangat ibu cintai dan sangat membutuhkan asuhan, belaian, dan harapan. kami sekeluarga hanyalah masyarakat kecil, dan ibu seorang anggota veteran, melanjutkan cita-cita menjadi seorang polisi.

apabila dalam melaksanakan tugasny ibu melakukan kesalahan dalam administrasi, karena ibu hanyalah petugas administrasi, maka maafkanlah sesuai kadar kesalahannya. ibu dalam melaksanakan ibadah pun adalah uang dari pinjaman koperasi dan uluran tangan-tangan senior-senior atau rekan-rekan di Bareskrim. Tidak ada sedikit pun dalam melaksanakan tugas ibu menikmati atau merekayasa untuk memperkaya diri ibu pribadi atau keluarga kami. Sama sekali tidak ada. Bisa dicek di keluarga kami, benda apa yang saya miliki sampai sekarang ini.

ibu sudah menjalani hukuman sejak bulan Maret sampai hari ini menerima vonis penjara 2 tahun. Sekiranya sudah cukup beban yang diberikan kepada kami sekeluarga ayah saya memerlukan ibu yang selama ini beliau tinggalkan. kami perlu bimbingan ibu. Dalam masalah ini, ibu sudah dibela oleh rekan-rekan penasihat hukum tanpa sedikit pun dipungut biaya darikami sekeluarga.

ibu hanyalah bawahan yang patuh pada perintah atasan, karena itu yang berlaku dalam kesatuan dan tempat ibu bekerja. melawan atasan adalah desersi dan makar. kini ketika ada masalah ibu yang di penjara sedangkan para jendral bebas merajalela. adakah kedilan itu kini.

kini siapa lagi yang akan membangunkan saya dan kedua saudara saya di pagi hari, siapa yang akan membuatkan sarapan kami, tangan lembut siapa lagi yang akan kami cium, di pundak siapa lagi kini berkeluh kesah dan meminta bimbingan. kini saya benar-benar tak berdaya dan hanya bisa berharap saya dan seluruh keluarga benar-benar siap untuk menjalani 2 tahun yang berat ini tanpa ibu di sisi.

inilah keadilan di tanah katulistiwa yang di puja bak tetesan sorga. kongkalikong dan persekutuan jahat para jendral jaksa ber”bintang” tiga, pejabat depkeu pajak yang rakus, akhirnya hanyalah mengobarkan ibu saya sang petugas administrasi yang tak tahu apa-apa. ibu bahkan bukan penyidik, hanya pencatat dan membuat surat khusus administrasi.

mungkin esok hari ketika terbangun dari tidur pasca hari ini yang sangat berat, saat mentari menyelimuti hanatnya dunia dan kicau burung berdengung ditelinga, saya akan tahu app artinya kasih sayang, pengabdian, kesetiaan dan keadilan.

———————————————————-

tulisan ini terinspirasi dari berita kompas hari ini tentang vonis untuk akp sri sumartini dan anaknya yang terluka pingsan di bangku dan pelukan ibunya.

si ibu masih memegang tasbih di tangannya saat vonis diketuk, dan anaknya anggi hanya bisa terlukai lemas dengan yang terus menangis. “Ya Allah, yah Allah,” ucap Anggi. “Istigfar nak, istigfar,” kata Tini menenangkan putriny.

mari kita tunggu apakah para jendral dan jaksa senior serta para pengusaha akan masuk bui seperti orang kecil bernama akrab tini ataukah akan bebas melenggang dan berpesta di luar jerusi besi.

sumber : disini , disini , disini .

ket: tulisan ini adalah bentuk keprihatinan kenapa hanya “orang kecil” yang selalu dikorbankan sedangkan “orang besar” tidak tersentuh. dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan proses hukum yang berlaku saat ini.

sektsa cerita di ujung jogja


fajar menyingsing mendahului bangunnya mentari pagi. diluar masih berkabut dan tetesan embun menjalar di ujung-ujung kanopi daun yang tersisi di pinggiran jakal. sekelompok wanita renta dibantu suaminya mulai menempatkan diri di emperan ruko yang pintunya masih tertutup angkuh. matahari mulai terbit di ufuk timur, berkas cahaya lembayung menembus sela-sela dinding-dinding gedung membingkai jaring-jaring silau yang menembus kedip mata. rona warna merah oranye adalah pertanda betapa kotornya bumi jogja, karena partikel debu, partikel kecil, aerosol padat dan aerosol cari di atmosfir adalah hal yang paling bertanggungjawab membentuk rona indah yang menjadi pujaan banyak manusia.

sketsa pagi jakal, tak kan pernah lepas dari para penjual gudeg yang kian hari menantang keangkuhan dunia. para ibu-ibu perkasa dengan berani menghidupi keluarga dengan mempertahankan makanan tradisi yang tertelan ambisi penguasa. kini jakal tak ramah lagi untuk mereka, perlahan tapi pasti, jakal dikuasai konglemerasi manusia-manusia berduit yang tak punya hati. jakal yang dulu sederhana, penuh penjual pecel dan ketoprak, bubur ayam, gudeg, karedok, sate padang dan jenis-jenis makanan sederhana lain kian hari kian tertutup dinding angkuh makanan cepat saji.

pagi ini, saya bertemu seorang ibu penjual gudeg yang ramah di pinggiran jakal, dengan gagah berani dia berjualan di depan penjual makanan dari luar neger, eh maaf maksud saya penjual makanan cepat saji itu tak tahu diri berani berjualan di depan ibu-ibu penjual gudeg, karena ibu itu sudah bertahun-tahun berjualan disitu. dua bakul kecil didepannya adalah pangkal hidup keluarga si ibu yang raut wajahnya menyimpan berbagai rahasia problem dunia.

sapaanya ramah dengan senyum, “makan mas, sama apa….?”

“emmm, apa ya”

telor, tahu, ayam swir, ayam daging….” tambah ibu itu memberi pilihan

“sama telor aja bu… jangan terlalu pedas ya…” saya mencoba menjawab piihan yang diberikan

“nasi’y seberapa mas…”

“jangan terlalu banyak bu….dikit aja”

“minumnya apa?”

“teh anget, tapi jangan terlalu manis”

“monggo mas”

diskusi pagi dengan ibu penjual gudeg pagi ini memberi banyak hal diluar kata “kenyang”. mendengarkan diskusi ibu itu dan suaminya, memberi warna resah di pagi yang cerah. tentang problematika anaknya yang sekolah di SMA, dan bingung membeli buku. atau kisah yang dibicarakan tentang berjubelnya makann siap saji di serambi jalan yang tak terjangkau. hingga gosip keluarga yang dibicarakan. keresahan keluarga kecil penjaga tradisi yang kian terjepit sebuah nama yang disebut “moderenisasi”, saya terkadang berfikir, apakah moderenisasi kota harus disertai dengn menempatkan pzza hut, hoka-hoka bento, dunkine donats, cafe-cafe luar negeri, dan sebarek makanan dari negeri yang jauh di lur sana.

kabut mulai hilang tersapu ombak kendaraan yang semkin ramai berlalu lalang saat pagi menjelang siang. baru setengah piring nasi yang bersemedi dilmbung, turun seorang wanita muda yang mungkin saja masih anak SMA, disusul seorang kawannya beberapa detik kemudian dari pintu yang sama di baris kedua. penampilannya simpel dengan pakian seadanya walau terkesan mewah, wajahnya terlihat lelah walau senyumnya tetap merekah. sebuah HP tipis namun lebar digengam erat mereka bedua.

“bu gudegnya dua… dibungkus” ucap salah satu wanita berbaju merah muda

si ibu penjual gudeg mulai meracik gudeg yang diminta dengan mimik serius karena rasa adalah reputasi yang menjadi harta, sedangkan kedua anak tadi sibuk dengan dengan HP tipis nan lebar tadi, tanganya sibuk menari senyumnya lebar namun serius. sesekali matanya mengkerut, beberapa detik kemudian tebuka lebar. lain saat senyumnya berubah menjadi tawa kecil yang renyah. saya pikir mereka sedang berkomunikasi dengan kawan atau sodaranya yang jauh. tapi tak lama saya tersentak saat salah satu dari mereka mengangkat dagu dan menngok kawan disampingnya dan berkata kata yan tak pernah saya kira.

“eh lu ya, yang barusan ngirim….siala lu”

“hahhahahah….. iya, lu sih, ga bales-bales twit gw”

“hahahaa…. iya sori, sori lagi seru nih, ketemu gebetan baru”

iya deh, gw ngerti….”

yang membuat saya terkejut bukan “lu-gw” yang terucap di tanah jogja, tapi bagaimana anak SMA yang berkomunikasi dengan kawan disampingnya selama beberapa menit dengan HP (mungkin BB) itu ternyata dua manusia yang dikendalikan mesin. mereka kehilangan bahasa verbal dalam sopan santun. komunikasi mereka yang berdampingan ternyata dikendalikan dari sebuah gadget ditangan. saya semain tidak mengerti dengn misteri hidup yang dilalui. sebenarnya manusia itu maju atau mundur, sehingga komunikasi yang bisa dilakukan dengan sederhana sampai harus menggunakan alat mewah. ah entahlah… karena say masih berfiir positif bahwa cewek metropolitan ini masih mau makan gudeg…

tapi positive thinking hanya lah sebatas angan saat kedua wnita muda ini beranjak dari tempat meeka berdiri,

“ni mba gudegnya, dua 10.000″ ucap si ibu penjual gudeg

oia, “ sebatas itu katanya sambil memberikan uang dan mengambil bungkusan sangat singkat, seperti tak pernah diajarkan car berbicara.

“hey, emang pagi ini kita mau makan gudeg? “sergah kawan di sampingnya

“ga lah, ini buat orang tua gw, kita makan di hokben depan situ aja, kan deket tinggal nyebrang jalan”

————-

catatan kecil : JAKAL adalah singkatan dari Jalan KAliurang yang membentang dari kampus UGM hingga taman wisata kaliurang. dan kisah ini di Jakal sekitr KM 3-4.

Halo dunia!


Selamat Datang Blogdetik.com. Ini merupakan postingan pertama Anda. Silahkan Edit atau hapus postingan ini, dan mulai ngeblog!